KH. Abdul Karim Pendiri Lirboyo

KH. Abdul Karim Pendiri Lirboyo

Di Magelang pada pertengahan abad XIX, perang Diponegoro telah berakhir. Pangeran Diponegoro yang bergelar Sultan Abdul Hamid Herucokro Amirul Mukminin itu ditangkap. Kemudian dibuang ke Manado oleh Belanda. Tapi para pengikutnya dibawah kepemimpinan kyai dan ulama’ terus melanjutkan perlawanan secara gerilya sampai bertahun-tahun. Sebaliknya, Belanda juga tidak tinggal diam. Mereka khawatir perang salib yang cukup melumpuhkan pihaknya itu berkobar lagi. Pengikisan kader-kader Pangeran Diponegoro pun tak terelakkan. Pengejaran dan penangkapan terus dilakukan sampai ke pelosok-pelosok desa. Bahkan Belanda tidak segan-segan memorak porandakan perekonomian rakyat. Menarik upeti dan pajak yang tinggi, menyokong tuan-tuan tanah, dan membiarkan perjudian. Akibatnya rakyat menjadi lemah, kelaparan, dan kepaelan timbul di mana-mana.

Demikian pula dengan dukuh Banar desa Deyangan Kawedanan Mertoyudan. Walaupun letaknya agak terpencil di wilayah selatan Magelang, akhirnya tempat pengasingan dan basis terakhir laskar Pangeran Diponegoro itu terjamah juga. Di sinilah pada tahun 1856, KH. Abdul Karim dilahirkan. Saat itu cengkeraman penjajah masih sangat kuat. Kemungkaran menginjak-injak yang benar. Kebodohan dan kesengsaraan begitu lekat. Suasana yang selalu mengiringi lahirnya tokoh besar seakan member isyarat bahwa tokoh inilah yang kelak menegakkan yang benar dan menghilangkan kemungkaran. Manab adalah nama kecil KH. Abdul Karim. Putra ketiga dari empat bersaudara anak pasangan Abdurrohim dan Salamah. Kedua kakaknya juga laki-laki. Yang pertama bernama Aliman yang kelak bermukim di Jatipelem, Diwek, Jombang. Yang kedua bernama Mu’min.

 Setelah pngembaraan dia tetap tinggal di jagan Magelang bersama adik Manab bernama Armiyah. Adik Manab tersebut dikemudian hari lebih dikenal dengan Mbok Miyo. Kehidupan keluarga Abdurrohim sudah cukup bahagia kala itu walaupun hanya seorang petani sederhana dengan sepetak sawah. Ia sudah merasa tentram dengan kehadiran Manab dan tiga orang saudaranya. Tapi tekanan penjajah mencekik petani gurem seperti dirinya. Beban berat begitu terasa untuk memenuhi kebutuhan keluarganya seperti lazimnya orang tua. Ia tidak mau melihat anak-anaknya sengsara. Akhirnya Abdurrohim mencoba berikhtiar mencari tambahan penghasilan.

Alhamdulillah rupanya Allah S.W.T membuka jalan baginya. Abdurrohim yang hanya petani desa itu tergerak hatinya untuk berdagang. Pekerjaan itu belum pernah digelutinya. Dengan modal seadanya, ia mencoba berjuang di pasar Muntilan yang terletak 10 KM arah tenggara Magelang. Pagi buta sebelum fajar menyingsing, Abdurrohim sudah berangkat ke pasar sambil memikul dagangannya. Dengan hanya berjalan kaki dan penerangan obor ia telusuri jalan-jalan yang masih gelap dan sunyi. Bahkan terkadang pula harus melewati hutan untuk mempersingkat perjalanan. Pendeknya sebuah perjalanan yang sangat berat dan melelahkan. Pada siang hari ketika matahari panas membakar, Abdurrohim baru pulang. Bukan lantas istirahat tapi justru ia meraih cangkulnya untuk meneruskan pekerjaan sehari-harinya di sawah. Rupanya ia tidak mengenal lelah dalam mengemban tugas sebagai kepala keluarga. Ketekunan dan suka bekerja keras Abdurrohim inilah yang nanti akan mewarisi anak-anaknya termasuk Manab.

Jerih payah Abdurrohim sedikit-sedikit tampak juga hasilnya. Namun belum sempurna betul membina keluarga sakinah, ia keburu dipanggil Allah yang maha kuasa. Mungkin Allah tidak mengizinkan hasil tetesan keringatnya ia nikmati di dunia ini. Akhirat tentunya lebih baik dan abadi. Atau mungkin Allah S.W.T. tidak mengendaki Manab dan saudara-saudaranya menjadi anak-anak yang ceria, tertawa riang, bermain ke sana ke mari di tengah kenyamanan keluarga. Sebaliknya mereka harus seperti ayahnya. Merasakan pahit getirnya kehidupan dengan menjadi anak-anak yatim. Memang, calon orang besar hampir tidak ada yang bergemilang dalam kemanjaan keluarga. Manab adalah salah satunya. 

Belum ada Komentar untuk "KH. Abdul Karim Pendiri Lirboyo"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel