Kisah Inspiratif

Kisah Inspiratif  

Kisah Inspiratif kali ini datang dari seorang ulama’ besar yaitu Imam Syafi’I. Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu dalam keadaan penuh kekurangan. Sungguhpun Imam Syafi’I  hidup dalam keadaan yatim dan miskin. Namun berkat dorongan ibundanya tercinta dan modal kecerdasan yang sangat mengagungkan maka mulailah Imam Syafi’I  belajar Al-qur’an kepada guru besar Imam Isma’il bin Qosthonthin di Makkah dalam usia 7 tahun. Dan pada usia 9 tahun Imam Syafi’I  sudah dapat menghafalkan 30 juz. Sejak Imam Syafi’I masih kecil suka mendengarkan keterangan para ulama’ dan mencatatnya di tulang belulang, kulit, atau sobekan kertas yang tidak dipakai sehingga tulisan tersebut memenuhi bilik kamarnya kemudian dihafalkannya sampai tuntas di luar kepala dengan lancar.

Dalam kisah inspiratif tersebut diceritakan dalam kisah inspiratif tersebut, Imam syafi’I dalam menuntut ilmu melakukan hal tersebut karena keterbatasan uang untuk membeli alat tulis menulis. Meskipun demikian, semangatnya dalam menuntut ilmu tidak pernah surut dan justru merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Imam Syafi’i. Hal ini beliau utarakan dalam sebuah maqolah :
 ما افلح في العلم الاّ من طلبه في القلّة  
Artinya : tiada kebahagiaan sama sekali dalam menuntut ilmu kecuali mereka yang ketika belajar dalam kondisi serba kekurangan. Berkat hasrat atau himmah Imam Syafi’i yang luar biasa dalam mencari ilmu serta rasa percaya diri disertai sikap tawakkal kepada Allah telah membentuk Imam Syafi’i menjadi penghafal yang luar biasa. Tidak satupun permasalahan yang didengar kecuali pasti dapat direkam dengan baik dalam ingatannya.

Dan dalam kisah inspiratif tersebut juga disebutkan Kemudian dengan tekad yang bulat beliau pergi ke kampung orang-orang Baduwi Banu Hudzail untuk mempelajari bahasa arab yang masih asli atau klasik dan fasih. Di dusun inilah Imam Syafi’i  tekun mempelajari berbagai ilmu antara lain adat istiadat Arab asli dan cara bermasyarakat mereka yang baik yang belum campur dengan adat istiadat bangsa lain. Sehingga setelah beberapa tahun di kampung baduwi tersebut, Imam Syafi’i menjadi pandai berbahasa arab yang fasih dan tinggi. Imam Syafi’i pun menjadi mahir dalam mengarang dan menyusun sya’ir atau sajak dengan sastra yang fasih dan tinggi.

Dalam kisah inspiratif tersebut, Mus’ab bin Abdillah al-Zubair berkata : Imam Syafi’i pada mulanya mempelajari sya’ir sastra arab dan ilmu adab, setelah itu belajar ilmu fiqih. Beliau juga menceritakan perihal Imam Syafi’i ketika beralih mempelajari ilmu fiqih, bahwa pada suatu hari Imam Syafi’i berada di atas hewan tuggangannya diiringi oleh juru tulis ayahku, kemudian Imam Syafi’i membuat kalam matsal dengan bait-bait syair. Maka oleh juru tulis ayahku Imam Syafi’i dipukul dengan menggunakan cambuk sambil berkata :”kalam matsalmu dengan bait-bait syair akan menghilangkan muru’ahmu. Bagaimana bila kamu mempelajari ilmu fiqih saja”. Bagai disambar petir beliau tersentak seolah tersadar dari lamunannya. Ucapan tersebut mendorong Imam Syafi’i untuk mempelajari Ilmu fiqih.

Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu ketika berusia 15 tahun telah menguasai berbagai macam ilmu antara lain ilmu al-qur’an, hadist, fiqih, dan sastra. Bahkan para sastrawan dari qobilah bani Hudzail berguru dan mentashihkan sya’ir-sya’ir kepada Imam Syafi’i. Namun sekalipun penguasaan ilmu sya’irnya Imam Syafi’i telah sempurna, Imam Syafi’i  tidak tertarik menjadi seorang penyair karena Imam Syafi’i beranggapan bahwa ilmu tersebut kurang mendukung bagi dirinya dalam upaya mendalami al-qur’an. Imam Syafi’i menceritakan: Aku berangan-angan tentang ilmu sya’ir arab kemudian aku naik ke bukit Mina. Ketika telah sampai di puncak Mina, tiba-tiba aku mendengar suara hatif (suara tanpa rupa) di belakangku yang mengatakan “Kamu harus belajar ilmu fiqih”. Begitulah kisah inspiratif Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu.

Belum ada Komentar untuk "Kisah Inspiratif "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel