Nadzom Al-Imrity Terstruktur Secara Matematis

Nadzom Al-Imrity Terstruktur Secara Matematis

Bagi kalangan santri, nama kitab Nadzom Al-Imrity sudah tidak asing lagi. Biasanya santri selalu membawa kitab tersebut ke mana ia pergi. Memang dicetak dengan ukuran kecil sehingga mudah untuk dibawa kemana-mana. Namun isinya kitab tersebut cukup istimewa karena merupakan salah satu kumpulan bait-bait puisi ber-bahar Rajaz dengan bahasa yang mudah dan indah sekali.

Sengaja disusun oleh seorang penulisnya dengan judul al-Durrah al-Bahiyyah fi Nazdam al-Ajurrumiyah untuk mempermudah proses belajar dan menghafal para santri dalam bidang gramatika bahasa Arab dari kitab al-Ajurrumiyah yang dikarang oleh Syekh Muhammad bin Ajurrumy al Shanhaji. Nama lengkap penulis seperti direkam dalam kitab al-A’lam oleh al-Zirakly, yakni Syekh Syarafudin Yahya bin Nurudin Musa bin Ramadhan bin ‘Umairah al ‘Imrithi al Syafi’i al Anshari al Azhari. Beliau hidup sekitar abad ke-15 M di daerah ‘Imrith (sekarang Markaz Abu Kabir), bagian timur Mesir. Beliau adalah seorang pengajar hebat di al-Azhar, sangat menguasai, ushul fikih, ilmu bahasa dan lainnya.

Puisi atau Nazham al-Imrithi bidang gramatika bahasa Arab hingga kini, sudah sekitar kurang lebih lima abad masih menjadi rujukan bagi para pelajar khususnya santri. Begitu pula nadzam bidang fikih mazhab Syafi’i, yaitu kitab Nihayah al-Tadrib fi Nazhmi Ghayah al-Taqrib yang dikarang oleh Syekh Abu Syuja’ dan bidang ushul fikih, yaitu Tashil al-Thuruqat fi Nazham al-Waraqat menggubah karya Imam al-Haramain menjadi sebuah puisi.

Jenis puisi yang bertemakan pembelajaran berbagai macam ilmu pengetahuan, kebanyakan ditulis menggunakan bahar Rajaz dengan bahasa yang jelas, ringkas, dan tidak keluar dari istilah, serta pemahaman dari bidang ilmu tersebut. Serta tentu tidak menggunakan sebuah ungkapan kata yang mengandung al-Khayal (imajinasi), al-‘Athifah (emosi), serta al-Majaz (metafora). Andai kata ditemukan ungkapan seperti itu, itupun bisa dibilang sedikit. Berbedahalnya  dengan puisi yang mempunyai tema bukan pembelajaran ilmu pengetahuan, karena memang jenis puisi seperti itu digubah untuk mempermudah hafalan dan pemahaman bagi para pelajar khususnya santri. Contoh selain Nazham al-Imrithi, yang sangat terkenal hingga saat ini adalah puisi (nazham) al-Fiyah Ibnu Malik.

Tradisi Penulisan Puisi Matematika

Kalau kita telusuri di dalam literatur Arab, tentang tradisi penulisan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan yang berbentuk nazam (puisi). Kemungkinan muncul bersamaan atau paska menjamurnya sebuah penulisan ilmiah berbentuk natsar (prosa) seperti matan (teks) yang berupa inti kajian utama. Kemudian Syarah (penjelasan) nya, biasanya berupa penguraian secara menyeluruh. Lalu Hasyiah (catatan kaki), biasanya berupa ta’liqat dengan ditambahi penjelasan yang detail dan terperinci. Kemudian Belakangan muncul penulisan berupa Taqrirat ‘ala al Hawasyi, atau biasa kita sebut dengan komentar atas komentar.

Kurang lebih mulai abad ke-10 M, banyak kita jumpai para penulis ilmiah tidak lepas dari lingkaran jenis penulisan berupa Matan, Syarah, Hasyiah dan Taqrirat. Dan yang paling belakang, ada jenis penulisan hanya berisi koleksi pengulangan hasil kajian-kajian terdahulu yang disebut al Mausu’at, kira-kira seperti ensiklopedia biasanya ditulis sampai berjilid-jilid. Pada tahapan ini, bisa dipastikan tidak ada inovasi baru dan kajian independen dalam tradisi penulisan keilmuan dewasa ini. Hal ini terjadi dalam setiap berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan.

Memandang matan sebagai hilir penulisan sebuah ilmu pengatahuan, meskipun ada beberapa penulis, bersikap keras terhadap model penulisan ilmu pengetahuan dengan pendekatan ini akan tetapi masih banyak dari para penulis mengkajinya melalui pendekatan puisi, sebagai jalan pintas untuk dapat mudah dihapal dan menguasainya dengan cepat. Akan tetapi faktanya, tradisi penulisan ilmu pengetahuan melalui pendekatan puisi mendapat tempat tersendiri di tengah kalangan pencari ilmu. Sehingga menyebar dalam berbagai bidang seperti Ushul Fikih, Nahwu Shorof, kedokteran , Fikih, , Qira’at, astronomi, dan masih banyak lagi.

Antara Puisi dan Matematika

Mungkin Sebagian di antara kita mempunyai anggapan antara disiplin puisi dan matematika terpisah bagai ada jurang perbedaan di tengahnya. Disiplin matematika hanya berkutat dengan angka-angka dan persamaan. Berbeda halnya dengan puisi yang berupa kalimat-kalimat yang tertata dengan aturan wazan dan qawafi. Saya kira, hal itu adalah penilaian dunia modern. Mengapa?

Karena, pada abad-abad sebelumnya, kita menjumpai para tokoh ulama pakar astronomi, matematika, dan kedokteran mempunyai kecenderungan menyukai puisi. Bahkan banyak diantara mereka menulis tema-tema keilmuan tersebut dengan gubahan puisi. Mereka memandang bahwa untaian kata yang tertata dalam sebuah gubahan puisi, tidak lain itu hanya persamaan matematis.

Dalam sebuah jurnal Haula Kuliyyah al-Insaniyyat wa al-Ulum al-Ijtima’iyyat yang diterbitkan oleh Qatar University, menerbitkan edisi khusus yang ke-9 pada tahun 1984 M, dengan mengangkat tulisan Dr. Jalal Syauqi yang berjudul “Manzhumat al ‘Ilm al Riyadhi “ (koleksi puisi matematika).
Dalam kajiannya, beliau membahas relasi antara puisi dan matematika. Menurutnya, antara puisi dan matematika memiliki persamaan, keduanya sama-sama tunduk pada regulasi pasti.

Memang betul, puisi itu dibangun di atas irama dan aturan-aturan wazan (keseimbangan) yang akurat. Maksudnya, jika kita lagukan dengan menggunakan ketukan, maka baris pertama memiliki jumlah dan tempo ketukan yang sama dengan yang kedua. Begitu pula matematika, tidak akan bisa berdiri tanpa adanya urutan struktur atau langkah-langkah yang logis. Jadi tidak mengherankan, apabila terkadang kita menemukan puisi dan keteraturan, wazan dan keseimbangan, persamaan serta harmoni berkumpul di antara ungkapan puitis dan berpikir matematis.

Belum ada Komentar untuk "Nadzom Al-Imrity Terstruktur Secara Matematis"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel