Syekh Muhammad Amin Al Jilani Kembali ke Hadirat Allah

Syekh Muhammad Amin Al Jilani Kembali ke Hadirat Allah

Telah kembali ke hadirat Allah S.W.T. Syekh Muhammad Amin Al Jilani yang merupakan salah satu keturunan Syekh Abdul Qodir Al Jilani yaitu sebagai cucu ke 26. Ayah beliau bernama Syekh Muhammad Ali. Dan beliau juga murni bertumpah darah Turki. Dalam catatan perjalanan dakwahnya, beliau pernah berkunjung hampir ke seluruh kawasan Nusantara seperti yang pernah dikatakan oleh Ismail yaitu pendamping setianya Syekh Muhammad Amin Al Jilani sejak 6 tahun silam. Kota di Indonesia yang pertama kali didatangi oleh Syekh Muhammad Amin Al Jilani adalah kota Banten Jawa Barat. Awal mula hanya beberapa kota yang menjadi objek dakwah beliau. Akan tetapi dengan seiring berjalannya waktu, pada tahun 2016 beliau mulai mengembangkan sayapnya di berbagai kota-kota besar seperti Malang, Cirebon, Pekalongan, dan sekitarnya.

Pada tahun 2019, beliau Syekh Muhammad Amin Al Jilani pernah berkunjung ke salah satu pondok pesantren terbesar di Jawa Timur yaitu di pondok pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah Situbondo. Dalam kunjungan tersebut beliau sempat berpesan “setiap amal haruslah didasarkan pada ihsan yang nantinya akan melahirkan keikhlasan dan kesungguhan beribadah kepada Allah S.W.T.”
Di tahun 2020 tepatnya pada hari jum’at 17 januari beliau Syekh Muhammad Amin Al Jilani melanjutkan perjalanan dakwahnya yaitu ke Pondok Pesantren Abu Manshur yang berada di desa Weru Lor kecamatan Weru kabupaten Cirebon. Dan kunjungan beliau di pondok pesantren tersebut sangat memberikan kesan karena beliau selain mengijazahkan sholawat, tahlil, dan istighfar beliau juga membawa kotak khusus yang berisi barang-barang mulia. Diantaranya yaitu sehelai rambut baginda nabi Muhammad S.A.W, tanah dari kamar baginda nabi Muhammad S.A.W, tanah dari goa hiro’, bongkahan kecil batu ka’bah dan potongan kain kecil dari kiswah ka’bah.

Kakek Syekh Muhammad Amin Al Jilani yaitu Syekh Abdul Qodir Al Jilani pernah berkata seperti yang dikatakan oleh Imam Nawawi,
1.jika bertemu dengan orang mulia, kamu harus berprasangka terhadapnya. Bisa jadi orang ini lebih baik dan tinggi derajatnya di sisi Allah daripada aku,
2.jika bertemu dengan orang dewasa, kamu sepatutnya berprasangka. Orang ini telah beribadah menyembah Allah sebelum aku,
3.bila bertemu orang awam atau bodoh, kamu harus berpikiran. Orang ini bermaksiat kepada Allah karena ketidaktahuannya. Sedangkan aku bermaksiat kepada Allah secara sadar di tengah ilmuku. Aku sendiri tidak pernah tahu bagaimana akhir hidupku. Dan akhir hidupku apakah khusnul khotimah atau su’ul khotimah,
4.bila berjumpa dengan orang kafir, kamu harus berprasangka. Bisa jadi orang kafir ini suatu saat memeluk islam dan mengakhiri hidupnya dengan amal yang baik atau khusnul khotimah. Sedangkan aku bisa jadi malah menjadi kafir suatu saat dan mengakhiri hidup dengan amal yang buruk atau su’ul khotimah,
5.jika bersua dengan ulama’ atau orang yang ‘alim, kamu mesti berprasangka. Orang ini dianugrahkan ilmu yang tidak dapat aku gapai, meraih derajat tinggi yang tidak aku raih, mengetahui materi ilmu yang tidak aku ketahui, dan mengamalkan ilmunya,
6.bila bertemu dengan anak kecil, kamu seyogyanya berpikir. Anak ini belum bermaksiat kepada Allah. Sedangkan aku telah bermaksiat. Tentu dia lebih baik dariku.
Kalau Syekh Muhammad Amin Al Jilani juga sempat berpesan, “jagalah majelis dzikir dan majelis sholawat. Seringlah melakukan dzikir untuk mengingat Allah. Barangsiapa ingat Allah, Allah akan mengingatnya, Allah akan menolong dan membantu hambanya. Dengan dzikir hati menjadi tenang …”

Belum ada Komentar untuk "Syekh Muhammad Amin Al Jilani Kembali ke Hadirat Allah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel