Nusyuz nya Istri Kepada Sang Suami

Nusyuz nya Istri Kepada Sang Suami

Di dalam berbagai macam kitab fiqih tentunya terdapat sebuah pembahasan terkait nusyuz. Nusyuz bisa diartikan sebagai sebuah sikap seorang istri terhadap sang suami yang menjadikan gugurnya hak-hak seorang istri dan kewajiban seorang suami. 

Sesungguhnya nusyuz yang dianggap oleh para ulama’ termasuk dosa besar adalah seorang wanita yang tidak memperkenankan tubuhnya dibuat senang oleh suaminya, baik bersenggama atau menyentuh atau mencium antar dua mata. Atau sang istri keluar dari rumah tanpa memperoleh izin dari suaminya, sekalipun ada kepentingan menjenguk salah satu orang tuanya yang meninggal dunia. Atau ingin mengunjungi majlis dzikir, pengajian biasa yang tidak ada kaitannya dengan ilmu fardhu ‘ain bagi sang istri, seperti mempelajari masalah haid dan nifas.

Bila untuk mempelajari ilmu fardhu ‘ain bagi sang istri maka keluarnya ini adalah untuk menunaikan kewajiban. Oleh karena itu bagi sang suami tidak diperkenankan melarangnya apabila sang suami tidak mengerti masalah tersebut, namun bila sang suami mengerti maka harus mengajari sang istri.

Juga termasuk nusyuz yang dilarang oleh agama, bila sang istri enggan pindah bersama sang suami, atau sang istri menutup pintu kamarnya di waktu sang suami ingin masuk ke dalamnya. Atau sang istri menuntut agar dicerai. Apabila disuatu saat sang istri mengerjakan hal yang tersebut di atas maka tidak berhak untuk meminta nafkah pada hari itu. Tidak berhak diberi pakaian dan pembagian tidur malam bersama suami. Bahkan sang suami lebih berhak untuk tidak tidur bersama sang istri, sehingga sang istri mau patuh kembali sekalipun memebutuhkan waktu beberapa tahun. Disaat sang istri nusyuz, maka bagi sang suami berhak memukulnya dengan cambuk atau tongkat asal tidak sampai melukai tubuhnya. Sebab sang istri akan dikutuk oleh para malaikat yang tidak pernah durhaka kepada Allah dan kelak akan disiksa oleh Allah di perkampungan yang terhina yaitu neraka.

Bagi seorang istri hendaknya mengetahui bahwa dirinya laksana budak yang dikuasai disisi sang suami. Oleh karena itu, bagi sang istri tidak diperkenankan mentasarufkan harta sang suami kecuali mendapat izin darinya. Bahkan ada segolongan dari para ulama’ yang berpendapat sesungguhnya sang istri tidak diperkenankan mentasarufkan hartanya sendiri kecuali mendapat izin dari sang suami. Sebab sang istri disisi sang suami laksana orang yang tidak diperbolehkan mentasrufkan harta bendanya sendiri.

Sebagian ulama’ berkata:”bagi seorang wanita diwajibkan punya rasa malu dihadapan suaminya, tidak melihat kepada orang lain di muka sang suami, taat kepada perintahnya, diam di waktu sang suami berbicara, berdiri di waktu sang suami datang dari bepergian dan di waktu berangkat pergi, berkumpul di waktu sang suami tidur. Selalu mengenakan minyak wangi di waktu berkumpul dengan sang suami, senantiasa mengolesi bibir dengan minyak misik atau minyak yang lain, selalu mengenakan pakaian yang rapi atau berhias diri di muka sang suami. Dan tidak usah mengenakannya di waktu sang suami tidak ada.

Tidak khianat di waktu sang suami pergi baik dengan memperbolehkan dirinya di jamah lelaki lain atau memelihara harta sang suami. Begitu juga menghormati keluarga sang suami dan kerabatnya. Memandang banyak apa yang dari suami meskipun sedikit. Sebagian ulama’ berkata:” bagi sang istri hendaknya bersungguh-sungguh dalam beribadah pada Allah, taat kepada Rasulullah dan selalu patuh pada suaminya, selalu mencari jalan untuk memperoleh ridhonya. Sebab sang suami yang menjadikan sang istri masuk ke dalam surge atau ke neraka. 


Belum ada Komentar untuk "Nusyuz nya Istri Kepada Sang Suami"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel