Perjalanan Manab Mencari Ilmu (1)

Perjalanan Manab Mencari Ilmu (1)

Keinginan Manab (nama kecil KH. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo) untuk mengembara dan menuntut ilmu sangat menggebu setelah ia mengetahui kharisma alim ulama’ pengikut Pangeran Diponegoro. Misalnya Kyai Imam Rofi’I dari Bagelan, Kyai Hasan Bashori dari Banyumas, Kyai Mlangi dari Sleman, dan lain-lain. Manab begitu kagum hanya karena kedalaman ilmu agama para ulama’, belanda sangat takut menghadapi mereka. Terbesit sebuah cita-cita luhur di hati Manab ingin mencontoh tindak lampah ulama’. Dia ingin tahu ilmu agama secara mendalam, beliau seperti tidak rela menjadi orang biasa walau sebenarnya Manab sadar bahwa ia hanya anak seorang petani tapi ia yakin bahwa keturunan sejati adalah keturunan sesudahnya bukan sebelumnya. “inilah saya, bukan inilah ayah saya”, begitulah motto Manab.

Baginya nasab tidak penting. Yang penting adalah ilmu. Akhirnya, pucuk dipinta ulam pun tiba. Aliman, kakak Manab yang telah merantau ketika pulang ke Magelang menengok keluarganya. Ia juga bermaksud mengajak pergi Manab yang saat itu berusia 14 tahun. Betapa gembiranya hati Manab, keinginan yang selama ini terpendam yakni meninggalkan kampong halaman untuk mencari ilmu Alhamdulillah terlaksana juga. Apalagi setelah Belanda kian melancarkan penangkapan-penangkapan terhadap pemuda kader-kader ulama’, hati manab semakin berontak saja untuk secepatnya meninggalkan Magelang. Setelah mendapatkan restu orang tuanya, berangkatlah Manab bersama kakaknya. Mereka memilih melakukan perjalanan ke Jawa Timur karena konon banyak ulama’ yang menyingkir ke daerah ini.

Saat itu sejarah menunjukkan tahun 1870. Tentu, sarana transportasi masih sangat langka. Tapi itu tidak memupuskan semangat Manab. Justru itu merupakan tantangan awal yang mesti ia hadapi. Hanya dengan berjalan kaki, mereka melakukan perjalanan ratusan kilometer. Setelah long march yang sangat melelahkan, sampailah mereka pada sebuah dusun di Gurah Kediri, namanya Babadan. Di dusun inilah mereka menemukan surau yang diasuh oleh kyai. Juga di tempat yang amat sederhana ini, Manab mulai menyantri dengan mempelajari ilmu-ilmu dasar seperti ilmu amaliyyah sehari-hari.

Mulailah babak baru bagi Manab. Di rantau dia menuntut ilmu. Ada kedamaian dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi betapapun ia juga harus memikirkan bekal sehari-hari. Maklum, perbekalan yang dibawa dari rumah sudah habis diperjalanan. Akhirnya Manab bersama kakaknya mesti membagi waktu untuk ikut mengetam padi menjadi buruh warga desa saat panen tiba. Setelah dirasa cukup singgah di Babadan ini, mereka meneruskan pengembaraannya. Mereka pindah di sebuah pesantren yang terletak di Cempoko, 20 km sebelah selatan Nganjuk. Menurut sebuah riwayat, Manab cukup lama belajar sekaligus bekerja di Pesantren ini. Kemudian mereka pindah lagi ke Pesantren Trayang, Bangsari Kertosono.

Di Pesantren ini Manab memperdalam al-qur’an dengan baik. Kian beranjak dewasa, Manab pun semakin bertambah tekun mengaji. Seakan dia tidak puas dengan hanya satu dua pesantren saja. Masih bersama kakaknya, Aliman, ia meneruskan pengembaraan ilmiyyahnya. Melanjutkan perjalanan kea rah timur. Seolah-olah Manab akan mengejar ke mana saja ilmu itu tersembunyi walau sampai ke negeri China, bahkan hingga ke ujung dunia.

Sesampainya di daerah Sidoarjo, dua bersaudara itu singgah di Sono, sebuah pesantren yang terkenal ilmu shorofnya. Cukup lama Manab mondok di Pesantren Sono, hampir 7 tahun. Di sini, Manab sudah tidak bekerja lagi. Seluruh kebutuhannya ditanggung kakaknya. Sang kakak merasa sayang jika waktu Manab tersita untuk bekerja. Karena Manab cukup rajin mengaji. Dalam waktu singkat, kitab-kitab dasar nahwu shorof telah dikuasai dengan baik. Sebagai ungkapan terima kasihnya kepada sang kakak, Manab bertambah semangat dalam belajar. Waktunya hanya untuk belajar semata, ia gunakan sebaik-baiknya, ia tidak ingin mengecewakan kakaknya. Bahkan sampai Manab menjadi salah seorang ulama’ terkenal kelak, beliau masih ingat akan jasa kakaknya. Hal ini pernah diceritakan kepada cucu tertua beliau, Agus Ahmad Hafidz,bahwa kesantrian beliau juga karena sang kakak.

“Aku iso nyantri yo karna diangkat kakakngku”, kata beliau merendah. Penguasaan Manab atas kitab-kitab dasar nahwu shorof semakin membesarkan himmahnya untuk mempelajari kitab-kitab yang lebih tinggi semacam Alfiyyah Ibnu Malik, kitab patokan resmi pesantren. Menguasai kitab seribu bait syair nahwu shorof ini berarti jaminan untuk menguasai literatur pesantren, yakni kitab kuning. Manab memang senang sekali mempelajari cabang ilmu nahwu shorof sebagai kegemaran karena shorof ibarat ibunya ilmu sedangkan nahwu ayahnya ilmu. Kegemaran yang menggebu itulah yang membuat Manab ingin pindah. Dia ingin mencari pesantren yang lebih tua lagi. Dan tersiar kabar saat itu bahwa di Madura terdapat pesantren yang cukup terkenal yaitu pesantren Bangkalan dengan kyainya yang alim alamah, namanya Kyai Kholil.


Belum ada Komentar untuk "Perjalanan Manab Mencari Ilmu (1)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel